Menulis Press Release dengan Gaya Feature

Oleh Winarto

Ada seorang teman yang bekerja di bagian humas (public relation) mengeluh. Katanya, susah banget berharap media, baik surat kabar, majalah ataupun online, bersedia mempublikasikan press release yang telah ia kirimkan ke berbagai media tersebut. Padahal menurutnya isi press release cukup bagus, mengandung nilai berita penting dan menarik.

Sayapun mencoba melihat isi press release tersebut. Ternyata berupa informasi kegiatan pemberian bantuan pengobatan gratis bagi warga sebuah desa tertinggal. Sebagai sebuah topik berita, informasi tersebut sebenarnya cukup menarik. Tetapi, mengapa media tidak dengan serta merta bersedia mempublikasikan berita/press release tersebut?

Temukan Angle Beritanya

Saya melihat bahwa kelemahan teman saya dan juga mereka yang bekerja di bagian humas pada umumnya ketika membuat press release yaitu, kurangnya pemahaman mereka tentang apa itu nilai berita, sehingga mereka tidak mampu menemukan angle (sudut pandang) yang paling menarik dari suatu peristiwa (event) untuk diberitakan.

Acara pengobatan gratis sebagai bagian dari kegiatan CSR (corporate social responsibility) seperti contoh di atas sebenarnya bisa menjadi berita menarik kalau kita pandai mengolahnya. Informasi seperti ini akan terasa kering, kurang menarik kalau dibuat sebagai berita straight news (berita langsung), apalagi kalau isinya hanya acara seremonial dengan kutipan omongan pimpinan perusahaan pemberi bantuan. Bagi wartawan berita seperti itu dipandang sebagai promosi sebuah perusahaan sehingga tidak akan dilirik sedikitpun.

Informasi tentang pemberian bantuan pengobatan gratis masih mungkin dibuat berita menarik asal kita pandai menemukan angle yang paling kuat. Misalnya kita ambil angle tentang mahalnya biaya pergi  ke dokter dan pusat layanan kesehatan bagi masyarakat di desa-desa terpencil. Karena untuk pergi ke puskesmas atau dokter di kota warga harus menempuh perjalanan cukup jauh dan membutuhkan biaya transportasi besar. Dengan kondisi seperti ini maka mereka merasakan manfaat adanya kegiatan bantuan pengobatan massal dan gratis.

Dengan angle berita seperti itu kita tentu membutuhkan tambahan informasi seperti kondisi sosial ekonomi masyarakat desa tersebut, letak geografis desa, seberapa jauh dari pusat layanan kesehatan, penyakit-penyakit yang sering muncul dan mewabah di desa tersebut. Juga, agar magnitute-nya lebih besar, kita perlu data tentang desa-desa lain yang kondisinya mirip dengan desa itu. Informasi tersebut masih perlu dilengkapi wawancara dengan warga, kepala puskesmas terdekat atau kepala dinas kesehatan, dan tentu saja pemimpin perusahaan/instansi kita selaku pemberi bantuan.

Setelah data-data lengkap baru kita buat beritanya. Judul dan lead beritanya kira-kira seperti ini.

*Biaya ke Dokter Mahal

WARGA SERBU PENGOBATAN GRATIS

Warga Desa Sukarmaju, Kecamatan Sukarmakmur, Kabupaten Serbasulit, hari Minggu, memenuhi lapangan desa setempat untuk memperoleh pengobatan gratis. Warga antusias mendatangi layanan kesehatan gratis  karena selama ini mereka sulit memperoleh layanan kesehatan di puskesmas. Karena letak desa mereka yang terpencil,  untuk ke puskesmas terdekat mereka harus menempuh perjalanan setengah hari berganti ganti moda transportasi, dengan biaya relatif mahal.

Setelah judul dan lead kita buat, baru kita tulis tubuh (body)  beritanya yang berisi informasi yang telah kita peroleh. Antara lain tentang berapa jumlah warga yang datang berobat, apa saja sakit yang mereka derita, apakah ada yang gawat darurat. Masukkan hasil wawancara dengan kepala puskesemas dan warga, serta tak ketinggalan pemimpin perusahaan/instansi pemberi bantuan.

Kalau di lapangan kita menemukan fakta menarik, angle berita bisa saja kita ganti. Misalnya, kalau ditemukan data bahwa separuh dari jumlah warga mengidap penyakit TBC maka kita bisa mengeksplor aspek ini sebagai angle berita yang kuat. Sehingga judul dan lead beritanya seperti berikut ini.

SEPARUH WARGA DESA SUKARMAJU MENGIDAP TBC

Sekitar 600 orang warga Desa Sukarmaju, Kecamatan Sukarmakmur, Kabupaten Serbasulit, diketahui mengidap penyakit TBC. Sebagian sudah dalam kondisi kritis dan memerlukan penanganan segera. Fakta ini diketahui saat dilakukan kegiatan pengobatan gratis di desa yang letaknya jauh dari pusat kota ini. Kepala Puskesmas setempat menyatakan akan merujuk para penderita ke rumah sakit terdekat agar mereka mendapat pengobatan secara intensif dan berkesinambungan.

Angle berita yang kedua ini tentu lebih kuat dan menarik dibanding yang pertama, dan cukup menarik perhatian media atau wartawan. Dalam berita tersebut tentu saja kita masih bisa memasukkan kepentingan perusahaan/instansi/lembaga kita selaku penyelenggara bantuan pengobatan gratis. Kita bahkan bisa mengundang wartawan untuk ke lokasi dan memberika data-data yang kita miliki.

Ingin Lebih Menarik? Buatlah Feature!

Ingin press release Anda lebih menarik? Buatlah feature! Memang tidak semua materi press release bisa dan perlu dibuat feature. Penulisan feature khususnya bisa dilakukan untuk acara-acara yang berkaitan dengan CSR seperti pemberian bantuan bagi korban bencana, penyediaan pengobatan gratis, bimbingan manajemen dan keuangan bagi pengusaha kecil, pembagian beasiswa bagi pelajar yang berprestasi, gerakan pengijauan, lari maraton jantung sehat, dan sebagainya. Selain itu, kegiatan launching produk tertentu juga bisa menarik untuk dibuat feature.

Feature adalah tulisan yang tujuannya memberi hiburan dengan mengangkat sisi-sisi manusiawi (human interest) dari suatu peristiwa, kelompok masyarakat atau seseorang. Penulisan feature agak berbeda dari penulisan berita (straigh news). Diperlukan kreatifitas lebih, baik dalam penentuan angle, judul, lead, tubuh, bahkan juga ending cerita.

Event yang digelar dalam rangkaian kegiatan CSR lebih tepa dibuat feature karena biasanya berupa soft news, dan banyak mengandung nilai-nilai human interest yang bisa diangkat atau ditonjolkan.

Dalam kasus pemberian bantuan pengobatan gratis misalnya, kita bisa mengangkat angle dari sisi warga. Kita ambil sebagai human example, satu keluarga miskin, yang mengidap beberapa penyakit, namun mencoba bertahan dengan ‘pengobatan’ seadanya karena tidak punya biaya ke dokter atau puskesmas yang letaknya jauh dari desanya. Kita bisa ceritakan kondisi di rumahnya, kehidupan sehari-hari, pekerjaan mereka. Lalu, kita tanya tanggapan mereka dengan adanya pengobaan gratis, apa harapan mereka, dsb. Setelah bercerita tentang keluarga tersebuit, baru kemudian kita bercerita tentang kondisi desa secara umum, masyarakatnya, layanan kesehatan yang ada dsb. Info tentang pengobatan gratis bisa kita sisipkan di sela-sela narasi, sehingga tidak ada kesan promotif.

Ingin tahu lebih jauh bagaimana membuat press release dengan gaya feature? Ikuti pelatihan kami: Penulisan Berita, Feature dan Press Release pada hari Rabu-Kamis, 23-24 Oktober 2013. Atau lihat  Jadwal Pelatihan Kami.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

PELATIHAN BULAN MEI 2017

BUKU BUKU MENARIK

The Art of Fact by Kevin Kerrane

True Stories: A Century of Literary Journalism by Norman Sims