Kebebasan Pers dan Berondongan Kasus

Oleh Winarto

 

SELAMA beberapa tahun terakhir berbagai masalah besar terjadi di negeri ini dan menjadi isyu utama media pemberitaan. Berbagai masalah tersebut muncul silih berganti, bahkan saling silang sengkarut, sehingga seolah saling berebut ruang  media. Kenyataannya, memang media tampak begitu tergopoh-gopoh menghadapi berbagai isyu besar yang memborbardir tanpa henti. Ketika sebuah kasus muncul dan belum tuntas mendapat perhatian media, muncul kasus lain yang lebih besar sehingga menutup kasus sebelumnya. Para jurnalis tidak pernah bisa beristirahat sejenak untuk menggarap suatu masalah secara lebih kontemplatif.

Berbagai peristiwa itu mulai dari hiruk pikuk di dunia politik, carut marut di dunia hukum, berbagai kasus korupsi, hingga bencana alam, kecelakaan dan wabah penyakit.

Aspek Permukaan

Berondongan kasus dan permasalahan itu tentu membawa hikmah bagi media berita, yakni membantu meningkatkan oplah bagi media cetak dan rating bagi media berita elektronik. Hal itu berarti peningkatan pendapatan lembaga media dari pemasukan iklan. Namun di sisi lain munculnya berbagai kasus dan isyu besar secara beruntun mengakibatkan media kehilangan kesempatan untuk melakukan kajian mendalam terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.

Perhatian media segera beralih setiap kali terjadi kasus baru, sementara kasus sebelumnya belum tergali tuntas. Media bingung menetapkan prioritas, peristiwa mana yang perlu mendapat perhatian utama dan kajian lebih jauh.  Akhirnya pemberitaan  hanya mampu menyentuh aspek permukaan pada setiap kasus. Lebih dari itu, sebagian media bahkan terjebak menyajikan berita hanya menyangkut sisi sensasional yang menarik minat audiens. Hal ini terutama terlihat pada pemberitaan di televisi.

Pada media cetak seperti surat kabar dan majalah kajian mendalam terhadap suatu kasus masih dimungkinkan,  karena media cetak lebih mudah memperbesar ruang yaitu dengan menambah halaman. Sambil menampilkan kasus terbaru di halaman utama, media cetak masih bisa menyajikan laporan mendalam dan komprehensif kasus sebelumnya di halaman lain. Tidak demikian halnya media televisi.

Problem besar yang dihadapi para jurnalis televisi adalah keterbatasan durasi tayang. Ini terutama berlaku bagi mereka yang bekerja di stasiun televisi umum yang tidak hanya menayangkan program berita, namun juga program-program hiburan seperti musik, filem, kuis, dan lain-lain.

Upaya untuk menambah durasi tayang sering harus berbenturan dengan kepentingan program lain. Lebih-lebih bila menyangkut jam tayang utama (prime time). Kenyataan seperti ini, ditambah semakin ketatnya persaingan antar-stasiun televisi,  mendorong mereka lebih memberi perhatian pada aspek-aspek dramatik suatu peristiwa dan cenderung sensasional dalam upaya menarik minat audiens dan menaikkan rating. Aspek visual lebih dipentingkan dibanding substansi permasalahan. Dalam peristiwa unjuk rasa misalnya, karena begitu banyak dan seringnya terjadi unjuk rasa di tanah air belakangan ini, maka hanya unjuk rasa yang berbuntut keributan yang memiliki peluang besar ditayangkan.

Gambar merupakan faktor penting dalam pembuatan berita tv. Ini sangat logis mengingat televisi sebagai media audio-visual. Namun patut diingat, bahwa pertimbangan akan visual hendaknya tidak menghilangkan pertimbangan substansial menyangkut isi pemberitaan. Penyajian gambar-gambar dramatik, tragik, atau komikal mestinya harus dilihat semata-mata sebagai metoda atau pendekatan, bukan tujuan dan esensi pemberitaan. Penyajian gambar-gambar dramatik tanpa mempertimbangkan isi hanya akan menempatkan berita televisi layaknya telenovela yang sekadar menghibur dengan cara mengaduk-aduk emosi penonton.

Perlu Jurnalisme Investigatif

Begitu banyaknya  peristiwa dan kasus yang tergelar seolah-olah begitu telanjang cenderung menumpulkan inisiatif jurnalis untuk melakukan kegiatan investigatif.

Sebagian jurnalis merasa sudah cukup menyampaikan fakta-fakta permukaan yang memang dengan mudah bisa diperoleh. Mereka menganggap fakta-fakta yang muncul ke permukaan adalah keseluruhan dari fakta-fakta yang ada. Padahal mungkin saja di balik fakta yang muncul ke permukaan masih ada fakta yang lebih besar dan menuntut perhatian.

Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor misalnya, bukanlah peristiwa yang selalu benar-benar “alami” yang memang ditakdirkan harus terjadi. Di balik peristiwa itu terdapat persoalan lebih besar dan strategis menyangkut kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang sarat kepentingan ekonomi, sosial bahkan politik secara nasional maupun internasional.

Bisa juga terjadi, fakta yang seolah tergelar telanjang adalah fakta-fakta yang telah terdistorsi yang sengaja dimunculkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan. Kini di tengah era kebebasan di mana semua orang bisa omong apa saja kemungkinan-kemungkinan seperti itu sangat besar. Demi kepentingan tertentu massa bisa digerakkan untuk berunjuk rasa untuk menekan suatu kelompok, mendiskreditkan suatu pihak atau untuk melahirkan keputusan politik yang melindungi kepentingan segelintir orang.

Mengadapi realitas seperti ini, media dituntut untuk pandai-pandai mencermati, memilih dan memilah fakta-fakta mana yang patut dipublikasikan dan didukung. Pertimbangan yang utama adalah kepentingan publik. Menjaga kepentingan publik, kepentingan rakyat pada umumnya adalah tugas suci media.

____________

WINARTO, senior news producer RCTI, lulusan Pascasarjana Sosiologi Universitas Indonesia.

 

Baca Artikel Terkait: Etika Jurnalistik di Era Kebebasan Pers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pelatihan Bulan April 2014

BUKU BUKU MENARIK

The Art of Fact by Kevin Kerrane

True Stories: A Century of Literary Journalism by Norman Sims